Amalan Perbuatan Berpahala Haji dan Umrah

Sahabat Alya banyak sekali amalan perbuatan yang mempunyai pahala haji dan umrah. Sebagaian berupa ibadah mahdah, yaitu ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah swt dan sebagian lagi berupa ibadah ghairu mahdhah, yaitu amalan ibadah yang di samping berhubungan dengan Allah swt, juga berhubungan erat dengan sikap kita kepada sesama makhluk. Berdasarkan Hadist Rasulullah Saw. Diantara amalan tersebut adalah:

1.  Niat Sungguh-Sungguh dan Upaya Haji yang Tidak Terlaksana

Diceritakan bahwa pada zaman Rasul ada beberapa sahabat yang tidak bisa ikut berjihad melawan tentara musyrikin, karena kondisi mereka tidak memungkinkan untuk ikut berperang, baik karena tidak ada harta untuk pembiayaan perang, sakit, cacat maupun sudah tua. Mereka sangat sedih dengan kondisi mereka itu, ada penyesalan yang mendalam karena mereka tidak bisa turut berjuang bersama Rasulullah saw. dalam kondisi seperti ini Allah swt ber-firman,

Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik, dan Allah Maha pengampun lagi maha penyayang,  Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk memebawamu”. Lalu mereka kembali, sedangkan mata mereka bercucuran air mata karena kesediahan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. (at-Taubah 91-92)

2.  Shalat Berjama’ah

 Shalat berjamaah adalah shalat yang dikerjakan oleh dua orang atau lebih dengan ketentuan satu orang di depan sebagai imam dan yang lainya di belakang sebagai makmum.

Poin kedua ini, shalat berjamaah minimal atau paling sedikit dilakukan oleh dua orang, semakin banyak orang yang ikut shalat berjama’ah maka semakin lebih baik. Shalat berjamaah memiliki  nilai 27 (dua puluh tuju) derajat lebih baik daripada shalat sendiri. Oleh sebab itu diharapkan lebih mengutamakan berjamaah daripada shalat sendirian saja. Shalat berjamaah ini semakin bermakna manakala dilakukan di masjid, inilah yang diberi kesempatan untuk meraih pahala seperti pahala haji, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.

“Barangsiapa berjalan untuk melakukan shalat wajib berjamaah maka dia bagaikan orang berhaji. Barangsiapa berjalan untuk melaksanakan shalat sunnah maka ia bagaikan orang yang berumrah dengan sempurna”. (HR Thabraniy)

من خرج من بيته متطهرا ن خرج من بيته متطهرا ن خرج من بيته متطهرا ن خرج من بيته متطهرا فأ جركأ جر الحا ج المحرم (اخرجه ابوداو

“Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan berwudhu’ untuk melakukan shalat fardu maka ia mendapatkan pahala orang yang berhaji yang memakai kain ihram”. (HR. Abu Dawud)

3.  Berdzikir Setelah Shalat Subuh Sampai Matahari Terbit

Selanjutnya amalan perbuatan berpahala haji dan umrah poin ketiga yaitu Berdzikir setelah Shalat subuh sampai matahari terbit. Dari sahabat Anas bin malik ra. Rasulullah Saw bersabda :

من صلى الغداة في جما عة ثم قعد يذ كر الله حتى تطلع الشمس , ثم صلى ركعتين كا نت له كأجر حجة وعمرة تامة تامة تامة (اخرجه الترمذي

“Barangsiapa melakukan shalat subuh berjamaah, kemudian dia duduk sembari berdzikir Allah Swt, hingga matahari terbit, kemudian dia melakukan shalat dua rakaat maka dia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah Rasulullah SAW bersabda, ‘Sempurna, Sempurna, Sempurna”. (HR. Turmudzi)

Rasulullah SAW. adalah teladan umat dalam masalah ini. Beliau tidak Hanya menganjurkan dengan perkataan saja, namun beliau juga melaksanakannya dalam keseharian. Dalam sebuah riwayat disebutkan,

“Simak bin Harb r.a. bertanya kepada Jabir bin Samurah r.a, ‘Apakah kamu pernah duduk bersama Rasulullah saw.? Jabir menjawab, Ya, saya sering (duduk bersama beliau)

4. Membaca Tasbih, Tahmid, dan Takbir Setelah Shalat

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah ra., ia berkata,

“Ada orang-orang miskin datang menghadap Nabi Saw. mereka berkata, orang-orang kaya itu pergi membawa derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal. Mereka shalat sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa berhaji, berumroh, berjihad serta bersedakah. Nabi SAW lantas bersabda, maukah kalian aku ajarkan suatu amalan yang dengan amalan tersebut kalian akan mengejar orang yang mendahului kalian dan dengannya dapat terdepan dari orang yang telah kalian. Dan tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada kalian, kecuali orang yang yang melakukan hal yang sama seperti kalian lakukan. Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir di setiap akhir shalat sebanyak tiga puluh tiga kali.” Kami pun berselisih. Sebagian kami bertasbih tiga puluh tiga kali, bertakbir tiga puluh empat tiga kali. Aku pun kembai kepadanya. Nabi Saw bersabda, “Ucapkanlah Subhanallah wal hamdulillah wallahu akbar, sampai tiga puluh tiga kali.” (HR. Bukhari)

5. Menuntun Ilmu

Kata ilmu diambil dari bahasa Arab ‘alima- ya’lamu- ‘i;man yang berati ilmu atau pengetahuan. Dalam pandangan islam, ilmu adalah anugrah istimewa yang menjadikan manusia unggul terhadap makhluk lain termasuk malaikat guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Hal ini tercemin dari kisah kejadian manusia pertama dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 31-32:

Sangat tinggi dan istimewa kedudukan orang yang berpengetahuan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Mujadalah ayat 11:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.. (QS. Al-Mujadalah: 11)

Manusia memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannya dengan berbagai cara untuk mewujudkan demikian pula Rasulullah memberi motivasi agar umatnya mencari ilmu kapan saja dan dimana saja termasuk dimasjid yang pada saat Rasulullah masjid menjadi sentral pengembangan dakwah dan pengajaran islam:

Hadist riwayat Thabrani mengataka :

من غدا إلى المسجد لا يريد إلا أن يتعلم خيرا أويعلمه كان له كأجر حاج تاماحجته (اخرجه الطيرني

“Barangsiapa pergi kemasjid dan di hatinya tidak ada niat kecuali ingin mempelajari kebijakan atau mengajarkan kebijakan maka dia mendapatkan pahala seperti pahala yang sempurna hajinya”.

6.  Shalat Duha

Shalat dhuha adalah salah satu shalat sunnah yang dilakukan pada pagi Hari setelah matahari terbit dilaksanakan minimal dua rakaat dan maksimal 12 rakaat. Shalat sunnah yang terkenal dengan fadhilah atau keutamaan untuk mempelancar rezqi ternyata mempunyai pahala lain yang sangat luar biasa. Rasulullah SAW, Bersabda:

ومن خرج إلى تسبيح الضحى لا ينصبه إلا إياه كاجر المعتمر المحرم (اخرجه ابوداود

“Dan barangsiapa keluar rumah untuk melakukan shalat dhuha, dan tidak ada maksud lain dihatinya kecuali untuk itu maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukan umroh”. (HR.Abu Dawud)

ركعتان من الضحى تعتدلان عندالله ججة وعمرة (اخرجه ابو الشيخ

“Di sisi Allah, pahala dua raka’at shalat dhuha menyamai pahala haji dan umroh.” (HR. Abu Syaih)

Disisi lain orang yang membiasakan shalat dhuha di hari kiamat nanti akan diperlakukan sangat istimewa karena ia akan masuk surga melewati pintu khusus yang bernama pintu Dhuha demikian penjelasan hadist riwayat Thabrani.

7.  Shalat Sunnah di Masjid Quba’

Quba adalah nama sebuah desa yang terletak kurang lebih 5 km sebelah barat daya kota Madinah masjid , Masjid Quba ini dibangun oleh Rasulullah Saw. pada waktu pertama kali beliau menginjak kaki di kota Madinah.

Menurut satu riwayat, penduduk Madinah iri dengan penduduk Makkah yang dapat melaksanakan ibadah umrah setiap saat dengan mudah sementara mereka jika ingin melaksanakan ibadah umrah harus menempuh perjalanan yang sangat jauh. Menjawab kegalauan penduduk Madinah ini, bersabda :

من تطهر في بيته ثم أتى مسجد قباء فصلى فيه صلاة كان له كاجرعمرة (أخرجه ابن ماجه وأحمد

“Barangsiapa bersuci (berwudhu) di rumahnya kemudian datang ke masjid Quba’, lalu shalat di dalamnya maka dia mendapatkan pahala seperti pahala umrah.” (HR an-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad dan al-Hakim)

Masjid inilah yang disebut-sebut dalam Al-Qur’an sebagai masjid yang dibangun di atas dasar takwa (Surat At Taubah: 108)

“Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) bersembah didalamya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri… (At Taubah, 108).”

8.  Umrah di Bulan Ramadhan

Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda kepada seorang wanita dari kalangan Anshar. Apa yang menghalangimu untuk melakukan haji bersama kami? Dia berkata, “Kami hanya punya dua onta, yang satu dibawa oleh bapak dan anaknya yang satu lagi kami gunakan menyiram kebun”. Maka nabi berkata,

فإذجاء رمضان فاعتمري فإن عمرة فيه تعدل حجة وفي رواية مسلم حجة معي

“ Jika datang bulan Ramadan, lakukan umrah itu sama dengan haji”. Dalam riwayat muslim, “Sama dengan menunaikan haji bersamaku”.

9.  Membaca Tasbih

Tasbih adalah kalimat untuk menyatakan dan mengakui bahwa Allah Swt adalah Yang Maha Suci.

Bacaan rutin tasbih sebanyak seratus kali, tidak membutuhkan waktu lebih dari 5 (lima) menit ternyata sangat luar biasa pahalanya, tentu saja bacaan yang sepenuh hati, Rasulullah Saw. bersabda:

من سبح الله مائة بالغداة ومائة بالعشي كان كمن حج مائة حجة (اخرجه الترمذي

“Barangsiapa membaca tasbih (mensucikan Allah; Subhanallah) seratus kali diwaktu pagi dan seratus kali diwaktu petang maka dia bagaikan orang yang melakukan haji seratus kali. (HR Turmudzi)

10.  Berbakti Kepada Orang Tua

Dalam bahasa agama berbakti kepada kedua orang tua disebut dengan istilah birrul walidain. Al-Qur’an menjelaskan kedudukan perintah ini beriringan dengan perintah menyembah kepada Allah :

Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan kehendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusai lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil”. (Al-Israa’:23-24)

Rasulullah Saw. memberi kabar gembira bagi siapa saja yang mampu membahagiakan kedua orang tuannya dengan sabdanya:

ىة ىد يه نظر حمعا من رجل ينظر إلى وجه والة مبرورة كتب الله له بها حجة مقبو ل

“Barangsiapa memandang wajah kedua orang tuanya dengan perasaan penuh kasih sayang maka Allah mencatat pahala haji yang diterima dan mabrur waktunya”. (HR Rafi’iy)

11.  Membantu Persiapan Haji dan Menolong Keluarga yang dI Tinggal Pergi Haji

Hadist Riwayat an-Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah mengataka,

من جهز غازيا في سبيل الله أوخلفه في أهله كان له مثل أجر الغازي من غيرأن ينتقص من أجرالغازي شيء ومن جهزحاجا أوخلفه في أهله كان له مثل أجرالحاج من غير أن ينتقص من أجره شيء ومن فطر صائما كان له مثل أجره

“Barangsiapa membantu menyiapkan kebutuhan perang fi sabilillah, atau membantu menyiapkan keperluan orang yang mau pergi haji atau memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang tersebut dengan tanpadikurangi sedikitpun.”  

12.  Menolong Orang Lain

Poin terakhir Amalan berpahala Haji dan Umrah yaitu Menolong orang lain. Hadist riwayat  al-Khatib mengatakan,

من قضى لأخيه المسلم حاجة كان له من الأجر كمن حج واعتمر

Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya yang muslim maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahalanya orang yang berhaji dan umrah”.

Dan Hadist ath-Thabrani juga mengatakan,

من مشى في حاجة أخيه المسلم أظله الله بخمسة وسبعين ألف ملك يد عون له ولم يخوض في الرحمة حتى يفرغ فإذفرغ كتب الله له حجة وعمرة

“Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya yang muslim, maka Allah menaunginya dengan tujuh puluh lima ribu malaikat –malaikat tersebut terus berdoa,sedangkan orang tersebut terus berada dalam lautan kasih sayang hingga dia selesai melakukan bantuan tersebut. Dan bila telah selesai maka Allah menetapkan pahata haji dan umrah untuknya.” 

Amalan-amalan tersebut bisa dikatakan bahwa perbuatan berpahala haji  dan umrah adalah bentuk rahmat dan kasih sayang Allah kepada orang-orang yang tidak mampu menjalankan ibadah Haji dan Umrah, namun kita harus mempunyai tekad untuk menjalankan rukun islam yang kelima tersebut sembari terus melaksanakan amalan-amalan yang mempunyai pahala haji. Dan orang yang sudah menjalankan umrah dan haji bukan berarti tidak perlu melakukan perbuatan-perbuatan mulia ini. Karena dengan cara mengamalkan amalan ini yang belum melaksanakn haji mendaptkan pahala haji dan orang yang sudah berhaji amalan tersebut sebagai bukti kemabruran hajinya.

Wallahua’alam Bishowab

 

 

Yuk, Share kepada sahabat Kalian !!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *